Pages

Tetakan Tetakan atau supitan merupakan salah satu tanda pendewasaan diri seorang anak. Anak laki-laki yang telah cukup umur akan di-supit. Tetakan biasanya dilakukan ketika anak laki-laki berusia antara 9-12 tahun. Anak laki-laki yang telah melewati proses ini dianggap telah melewati tahapan menuju masa pendewasaan diri. Karena itu, anak laki-laki yang sudah mau atau berani di-supit dianggap sudah cukup dewasa dan pemberani. Tetakan kadang-kadang disebut juga dengan istilah sunatan. Namun dalam masyarakat Jawa, istilah sunatan biasanya diperuntukkan bagi wanita. Tetakan biasanya dihubungkan dengan keyakinan dalam agama islam bahwa anak laki-laki yang telah cukup umur harus disunat. Ada pula orang yang berpendapat bahwa tetakan dilakukan karena alas an kesehatan. Tetakan biasanya dilakukan oleh dokter atau mantra yang disebut juru supit atau bong supit.  TetesanTRADISI tetesan anak perempuan, atau semacam sunatan pada anak lelaki, masih berkembang di pedesaan di wilayah Klaten. Tradisi tersebut diyakini sebagai upacara tulak bala atau ruwatan bagi anak perempuan, agar hidupnya bahagia di masa datang. Jika seorang anak perempuan tidak disunat, diyakini akan mengalami berbagai cobaan saat dewasa. Misal tidak bisa hamil atau susah saat melahirkan. Tetesan biasa dilakukan pada anak perempuan usia sekitar 7 tahun. Diawali dengan upacara menyucikannya memakai kembang setaman. Setelah mandi air kembang setaman, anak didandani dan dibaringkan di tempat tidur yang dilengkapi uba rampe atau rangkaian sesaji berupa antara lain kloso bongko (tikar kecil dari anyaman pandan), pisang raja dan kembang setaman. Setelah anak ditidurkan dalam ruang tertutup, Mbah Dukun membaca doa-doa untuk kemuliaan anak gadis tersebut. Selesai membaca doa, lalu memotong kunyit pertanda untuk menghilangkan sukerta (sial) yang ada pada anak itu. Dengan dipotongnya kunyit, berarti upacara menghilangkan sukerta anak gadis telah selesai. Sebagai upahnya Mbah Dukun memberi telor rebus dan uang yang ditempatkan pada sebuah takir (dari daun pisang). Anak gadis kemudian disuruh makan telor rebus serta diberi ganti baju yang bagus. Upacara berikutnya adalah bancakan nasi gudangan dan jajan pasar. Dibagikan kepada teman-teman sebayanya. Pada sore hari diadakan kenduri untuk para orang tua, guna mendoakan keselamatan dan kebaikan bagi si gadis. Tradisi tetesan di pedesaan biasanya disertai hajadan dengan mengundang sanak saudara dan tetangga sekitarnya. Seperti hajadan khitan anak lelaki, para tamu juga memberikan sumbangan berupa uang, beras, kelapa atau bahan lainnya. Ny Legiyem mengaku sudah sekitar 20 tahun menjadi Mbah Dukun tetesan. Gadis yang dihilangkan sukerta-nya tak tebilang lagi jumlahnya. Sering diundang melakukan upacara tetesan hampir di seluruh pelosok Klaten, misal ke Puluhwatu dan Kemalang. Bahkan sampai di Wonogiri. Nontoni Nontoni adalah upacara untuk melihat calon pasangan yang akan dikawininya. Dimasa lalu orang yang akan nikah belum tentu kenal terhadap orang yang akan dinikahinya, bahkan kadang-kadang belum pernah melihatnya, meskipun ada kemungkinan juga mereka sudah tahu dan mengenal atau pernah melihatnya.Agar ada gambaran siapa jodohnya nanti maka diadakan tata cara nontoni. Biasanya tata cara ini diprakarsai pihak pria. Setelah orang tua si perjaka yang akan diperjodohkan telah mengirimkan penyelidikannya tentang keadaan si gadis yang akan diambil menantu. Penyelidikan itu dinamakan dom sumuruping banyu atau penyelidikan secara rahasia.Setelah hasil nontoni ini memuaskan, dan siperjaka sanggup menerima pilihan orang tuanya, maka diadakan musyawarah di antara orang tua / pinisepuh si perjaka untuk menentukan tata cara lamaran. Upacara LamaranMelamar artinya meminang, karena pada zaman dulu di antara pria dan wanita yang akan menikah kadang-kadang masih belum saling mengenal, jadi hal ini orang tualah yang mencarikan jodoh dengan cara menanyakan kepada seseorang apakah puterinya sudah atau belum mempunyai calon suami. Dari sini bisa dirembug hari baik untuk menerima lamaran atas persetujuan bersama.• Pada hari yang telah ditetapkan, datanglah utusan dari calon besan yaitu orang tua calon pengantin pria dengan membawa oleh-oleh. Pada zaman dulu yang lazim disebut Jodang ( tempat makanan dan lain sebagainya ) yang dipikul oleh empat orang pria.• Makanan tersebut biasanya terbuat dari beras ketan antara lain : Jadah, wajik, rengginan dan sebagainya.• Menurut naluri makanan tersebut mengandung makna sebagaimana sifat dari bahan baku ketan yang banyak glutennya sehingga lengket dan diharapkan kelak kedua pengantin dan antar besan tetap lengket (pliket,Jawa).• Setelah lamaran diterima kemudian kedua belah pihak merundingkan hari baik untuk melaksanakan upacara peningsetan. Banyak keluarga Jawa masih melestarikan sistem pemilihan hari pasaran pancawara dalam menentukan hari baik untuk upacara peningsetan dan hari ijab pernikahan.Peningsetan Kata peningsetan adalah dari kata dasar singset (Jawa) yang berarti ikat, peningsetan jadi berarti pengikat.Peningsetan adalah suatu upacara penyerahan sesuatu sebagai pengikat dari orang tua pihak pengantin pria kepada pihak calon pengantin putri.Menurut tradisi peningset terdiri dari : Kain batik, bahan kebaya, semekan, perhiasan emas, uang yang lazim disebut tukon (imbalan) disesuaikan kemampuan ekonominya, jodang yang berisi: jadah, wajik, rengginan, gula, teh, pisang raja satu tangkep, lauk pauk dan satu jenjang kelapa yang dipikul tersendiri, satu jodoh ayam hidup. Untuk menyambut kedatangan ini diiringi dengan gending Nala Ganjur .Biasanya penentuan hari baik pernikahan ditentukan bersama antara kedua pihak setelah upacara peningsetan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar pada postingan ini :D
makasih ‎​(˘⌣˘)ε˘`)